Surabaya Masuki pancaroba


Sumuk’e poll rek ” ucap Rizki rahmadianti,salah satu warga Gunung Anyar yang juga seorang pengusaha di bidang jilbab ini sambil sesekali mengipaskan lekukan kertas ke arah kepalannya Beberapa hari terakhir suhu di Kota Surabaya dan sekitarnya memang terasa gerah. Bukan hanya siang, kegerahan juga dirasakan hingga malam hari. Panasnya suhu di Surabaya ini terjadi sejak 9 Oktober lalu, dan diperkirakan mulai menurun memasuki November mendatang. Peningkatan suhu di Surabaya hingga 37 derajat celsius itu disebabkan oleh gerak semu matahari melintas tepat di atas Surabaya. Fenomena  yang biasa terjadi setiap tahun.
Dijelaskan Firda, Petugas Pengolahan Data pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Klas I Juanda, gerak semu merupakan fenomena yang terjadi akibat sumbu rotasi dan evolusi bumi tegak lurus. Peredaran matahari sekarang jika dilihat dari Surabaya seolah-olah bergerak dari Utara ke Selatan.
Untuk saat ini, kemiringan bumi 23,5 derajat. Posisi matahari berada pada 7 derajat celsius lintang selatan garis khatulistiwa, atau melintas tepat di atas Surabaya. Fenomena ini umum terjadi di beberapa belahan bumi, tapi untuk saat ini memang Surabaya mendapat giliran.
“Gerakan bumi ada dua, pertama gerak rotasi yang menyebabkan terjadinya siang dan malam, kemudian revolusi yang menyebabkan pergantian musim. Dan pertemuan titik ini yang menyebabkan gerak semu matahari,” ujarnya.
Gerak semu matahari, misalkan Anda berada di dalam mobil dengan kecepatan 100 km/jam, ketika kita melihat kiri dan kanan, seolah-olah yang bergerak adalah pohon atau benda lain yang ada di luar mobil. “Itulah yang terjadi saat ini, jika matahari dilihat dari Surabaya sekarang, solah-olah matahari yang bergerak dain posisinya tepat di atas Surabaya. Untuk hari ini, suhu di Surabaya antara 25 sampai 35 derajat celsius, dan besok pun masih sama,” terangnya.
“Pada 23 September lalu matahari tapat berada di equator atau khatulistiwa. Kemudian, karena rotasi bumi, gerak semu matahari terus bergeser ke selatan,” tuturnya. “Gerak semu matahari akan kembali sampai pada khatulistiwa pada 21 Maret. Kemudian bergeser ke arah selatan lagi seterusnya hingga menginjak Oktober tanggal 10,” tambah dia.
Maka itu, pihak BMKG tidak heran bila kawasan Surabaya dan sekitarnya mengalami peningkatan suhu sangat tajam. Kemarau biasa, suhu maksimal di Surabaya hanya mencapai 34 derajat celsius. “Beberapa hari ini suhu maksimal mencapai 36 derajat celcius,” ungkapnya
Sementara itu, gerak semu matahari sendiri tidak mutlak menjadi faktor penentu datangnya musim penghujan. Hal itu diungkapkan oleh Teguh, Prakirawan BMKG Klas I Juanda. Faktor lain yang perlu diperhitungkan mengenai sirkulasi angin, kelembapan udara, dan suhu permukaan laut.
“Gerak semu itu tidak mutlak mempengaruhi potensi turunnya hujan di Surabaya dan sekitarnya. Ada beberapa faktor lain dengan melihat sirkulasi angin, kelembapan udara, suhu muka laut, juga diperhitungkan,” ujarnya.
Teguh pun mengungkapkan mulai 20 Oktober ini, Surabaya dan daerah sekitarnya sudah memasuki peralihan atau pancaroba dan pertengahan November memasuki musim penghujan. Hal ini bias di lihat dari gejala mulai terjadinya awan gelap (mendung) yang sesekali Nampak di sertai dengan hujan dengan curah yang sangat kecil.
Di musim pancaroba ini biasanya suhu akan sering berubah secara ekstrim dari panas ke dingin atau sebaliknya. Angin kencang ataupun puting beliung bisa terjadi di masa peralihan ini.Di harapkan kepada warga untuk menjaga kesehatan karena dengan seringnya pergantian suhu tersebut akan menimbulkan rasa tidak nyaman di badan yang sering berujung sakit/demam, istilah badannya nggreges.



Share on Google Plus

About Kim Swaraguna