Strategi Jitu Bisnis Makanan

Bisnis makanan dan minuman, atau lazim disebut Food & Beverages alias F&B, memang menggiurkan. Bagaimana tidak, banyak sudah kisah sukses yang digembar-gemborkan di sana-sini. Akibatnya banyak orang yang mencoba peruntungn mereka di bisnis ini.

“Banyak orang yang salah kaprah tentang bisnis F&B. Umumnya mereka menganggap ini bisnis yang gampang dan menguntungkan, dan pada akhirnya menggampangkan,” ujar Imam Rachmadi, konsultan jasa boga yang pernah membantu sejumlah kafe, restoran dan hotel. “Kalau sudah demikian, alih-alih keuntungan, malah rugi yang didapat. Itulah pentingnya pebisnis membangun kerjasama atau partnership dengan orang yang paham seluk beluk F&B.”

Imam menganggap bahwa letak kesalahan para pebisnis F&B yang gagal terletak pada kepercayaan diri yang berlebih tentang produk mereka. “Karena selain punya produk yang benar, pebisnis F&B harus pula mampu mengomunikasikan ke market yang tepat,” jelas Imam. “Produk yang baik tapi tidak bisa dikomunikasikan bakal percuma, karena akan nampak seperti produk lain yang selama ini sudha ada di pasar alias produk kompetitor.”

Contohnya saja sebuah warung tegal, yang memiliki ciri khas yaitu tulisan atau penanda bertuliskan “Warteg”. Tanpa tulisan Warteg, maka itu hanya warung biasa. Sementara itu, kalau ada tanda Warteg, orang akan dengan mudah mengasosiasikan warung tersebut dengan makan cepat dan murah.

Lalu, apalagi yang harus dilakukan sebelum memulai bisnis F&B. Simak tip dari Imam berikut ini:

Lokasi. Sebisa mungkin lokasi restoran, kafe atau warung sekalipun harus di tempat yang disebut prime. “Intinya harus terlihat. Karena kita bicara orang dalam konteks lapar, di mana yang paling dekat itu yang dipilih,” tegas Imam. “Entah itu di mal atau jalan raya.”

Waktu pelayanan. Atau biasa disebut timing serving berhubungan dengan mekanisme servis dan pelayanan. “Apakah restoran akan menyajikan masakan fast food, convinience food atau fine dining, harus ditentukan sejak awal,” papar Imam. “Ini nantinya berhubungan dengan pelayanan, misalnya karena konsumen ingin disajikan secepat mungkin, atau komunikasi antara konsumen, waiter, dan kitchen. Pada akhirnya kita bicara soal SOP atau Standard Operating Procedure.”

Suasana. Menurut Imam, hal ini berkaitan dengan citra bangunan dan lingkungan. “Walau warteg sekalipun, yang laris itu selain yang enak dan murah, suasananya juga bersih, nggak jorok,” kata Imam.

Produk atau menu. Dalam merumuskan menu, Anda harus tahu kondisi pasar di lingkungan tempat berdiri restoran. Imam menjelaskan bahwa pertanyaan ‘apa yang banyak dicari’ itu penting. “Tapi kalau Anda nggak tahu apa yang akan dijual, coba amati lingkungan sekitar dalam radius 5 kilometer, dan cari yang nggak ada,” jelas Imam. “Kalau Anda bersikeras memilih produk yang sudah ada, misalnya ayam goren, kemungkinannya cuma dua, yaitu sukses melebihi yang sudah ada, atau kalah bersaing dari yang sudah ada.”

Pada sisi lain Imam mengingatkan, bila produk yang Anda miliki sudah cukup dikenal, maka kompetisi yang paling utama. “Kompetisi ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya harga, ukuran porsi dan inovasi layanan. Selanjutnya biar konsumen yang memilih,” papar Imam. Itu sebabnya survei tetap penting dilakukan agar confidence
Share on Google Plus

About Kim Swaraguna

0 comments:

Posting Komentar