Batik Hemat Energi Dan Lubang Resapan Dikenalkan SDN Rungkut Menanggal I Kepada Takao Elementary School Jepang

Surabaya- Tanaman okra menjadi salah satu ikon lingkungan hidup SDN Rungkut Menanggal I yang diperkenalkan kepada sekolah mitranya di Jepang, Takao Elementary School, dalam program International Intercultural Mural Exchange yang Tunas Hijau menjadi koordinator Indonesia. Informasi tanaman okra ini disampaikan Arri Wahyu, guru SDN Rungkut Menanggal I yang menjadi penanggung jawab program ini.

Arri mengatakan bahwa selama ini komunikasi yang terjalin dengan Takao School kurang lancar. Kurang lancarnya komunikasi disebabkan SDN Rungkut Menanggal 1 kurang aktif membalas pesan online yang disampaikan. “Beberapa kali saya mencoba mengirimkan dokumentasi kegiatan-kegiatan lingkungan siswa, tetapi selalu gagal. Tetapi saya masih bisa berkomunikasi dengan Yuko Matsubara, guru penanggung jawab Takao Elementary School melalui email,” ujar Arri Wahyu kepada Tunas Hijau saat pembinaan program ini, Senin (14/1).

Dalam kegiatan ini, Takao Elementary School telah selesai membuat desaign mural yang akan segera dikirim ke SDN Rungkut Menanggal I. Gambar dari desain yang sudah dibuat oleh siswa dari Yuko Matsubara bertemanakan tentang Nature atau Alam. Yuko Matsubara menggambarkan salah satu bunga yang terkenal di Jepang, bernama Hamautsubo.

Selain itu, dalam desain muralnya Yuko Matsubara, guru penanggung jawab Takao Elementary School ini juga menambahkan adanya green bridge atau jembatan hijau yang pada sisi Takao, menggambarkan siswa yang terlibat dalam menggambar mural tersebut. ”Saya harap, kalian bisa membalas dan melengkapi gambar dari desain kami. Saya berharap kalian melengkapinya dengan menggambarkan potrait tentang siswa yang terlibat menggambar maupun mewarnainya,” terang Yuko Matsubara, dalam kutipan pesannya yang disampaikan online.

Pembuatan lubang resapan biopori juga menjadi salah satu kegiatan lingkungan yang diperkenalkan SDN Rungkut Menanggal I kepada Takao Elementary School. Disampaikan oleh Arri Wahyu bahwa pembuatan lubang biopori di sekolahnya memiliki beberapa fungsi, diantaranya untuk menangkap air hujan agar langsung masuk kedalam tanah dan tidak terjadi genangan air. Selain itu, juga untuk menambah jumlah volume air dalam tanah. ”Biasanya kegiatan lubang biopori dilakukan setiap Jumat dan siswa kami ajak membuat minimal 3 lubang resapan,” jelas Arri Wahyu.

Selain pembuatan biopori, beberapa kegiatan lingkungan yang juga menjadi ciri khas sekolah peraih juara pertama Surabaya Eco School 2012 adalah Sumokura yang digunakan untuk pembuatan kompos dari daun kering yang banyak berjatuhan di sekolah. Sumokura milik SDN Rungkut Menanggal I ini pernah memanen hasil kompos yang sudah jadi sebanyak 3 kali dalam 3 bulan terakhir ini.

Tidak hanya Sumokura, ciri khas sekolah yang lainnya adalah batik hemat energi ala SDN Rungkut Menanggal I. Dalam batik hemat energi ini, sekolah ingin menyampaikan pesan penghematan energi. Batik yang bertuliskan “Matikan listrik jika sudah tidak digunakan ini” diharapkan membalas sekolah mitranya dengan menyertakan dokumentasi kegiatan lingkungan di sekolah. (ryan)

Entri ini ditulis oleh International School Partnership
Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar