Pengolahan Sampah Basah dan Sampah Kering


Sampah adalah masalah klasik yang tak pernah habis untuk dibahas. Apalagi di negeri dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa yang sebagian besar acuh tak acuh terhadap masalah sampah. Membuang sampah di sembarang tempat sepertinya telah menjadi budaya masyarakat kita. Di tempat-tempat yang menjadi pusat keramaian, sampah tak pelak menjadi pemandangan tak sedap yang bisa mengurangi kenyamanan. Meski telah disediakan tempat sampah, masyarakat kita cenderung lebih suka membuang sampah sesuka hati. Bahkan pengemudi atau penumpang mobil sering membuang sampahnya ke jalanan.

Volume sampah yang membengkak seiring bertambahnya jumlah penduduk akan semakin membebani bumi kita. Jika setiap orang membuang sampah satu kantong plastik setiap hari, maka Indonesia bisa menghasilkan 200 juta lebih kantong plastik sampah setiap harinya. Bagaimana dengan seminggu? Sebulan? Setahun? Jika tidak dikelola dengan baik lama kelamaan gundukan sampah itu akan menjadi bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu.

Tanggung jawab pengelolaan sampah tak hanya menjadi beban pemerintah. Kita pun bisa berpartisipasi untuk mengurangi volume sampah dengan mengelolanya secara mandiri dimulai dari rumah. Beberapa waktu yang lalu saya mewakili PKK RW mengikuti Pembinaan Kader Lingkungan di pendopo Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. Bimbingan Teknis Pengelolaan Sampah Mandiri ini merupakan bagian dari program Green and Clean yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Dengan program ini masyarakat Surabaya diharapkan bisa menjadi pelopor penyelamatan bumi.

Prinsip dasar dari pengelolaan sampah mandiri adalah memilah sampah rumah tangga menjadi dua bagian: sampah kering dan sampah basah. Yang tergolong sampah kering adalah kertas, botol kaca ataupun plastik, karet, kain, dan sejenisnya. Sedangkan sampah basah adalah sampah yang berasal dari bahan organik, misalnya: sisa makanan, kulit buah dan sayuran, dan sejenisnya. Sampah basah ini akan diolah menjadi kompos dengan bantuan mikroorganisme yang ada dalam starter. Umumnya kompos dibuat dengan cara menimbun sampah basah di dalam tanah. Sulitnya mendapatkan lahan kosong di kota-kota besar, bisa disiasati dengan memakai tempat/ wadah seperti glangsing, gentong, kaleng bekas, atau keranjang untuk memproses sampah basah menjadi kompos.


Langkah-langkah pembuatan kompos dari sampah basah:

1. Potong kecil-kecil sampah basah

2. Siapkan alat pengolah kompos yang tersusun dari :

a. Bantalan sekam yang dibungkus kain tipis di bagian paling bawah

b. Starter yang berupa kompos yang sudah jadi


c. Tanah yang dicampur dengan air gula dan air leri (bekas cucian beras)

d. Potongan sampah basah

e. Ditutup bantalan berisi sekam


3. Aduk tiap hari untuk menambah oksigen yang berguna untuk proses pembusukan

4. Jaga kelembabannya, bila kurang lembab ditambah air, aduk lagi

5. Setelah dua minggu sampah akan berubah menjadi kompos

6.Keluarkan kompos yang telah jadi, sisakan sedikit untuk starter, yang belum sempurna menjadi kompos dimasukkan lagi

7. Masukkan sampah baru yang telah dipotong kecil

8. Penambahan sampah bisa dilakukan setiap hari kemudian diaduk lagi

Kompos yang dihasilkan bisa dipakai sendiri atau dijual. Pengelolaan sampah mandiri ini diharapkan bisa menginspirasi masyarakat untuk peduli dan turut serta dalam upaya penyelamatan bumi.

Sedangkan untuk sampah kering bisa di setorkan di bank sampah yang sudah ada di lingkungan anda, atau bisa di daur ulang menjadi benda-benda yang berguna seperti payung, jaket dan lain-lain, sehingga anda bisa mendapatkan pemasukan ekonomi secara langsung. (kim swaraguna Surabaya)
Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

2 comments:

  1. Anonim10.45

    kita punya komunitas pecinta lingkungan, bz apa g kira2 memberi seminar atu penyuluhan tentang pengolahan sampah dan peluang bisnisnya?

    BalasHapus
  2. wa..bisa banget.......ada nomor yang bisa di contact / mungkin bpk/ibu bc contact ke nomor kita...trims sebelumnya

    BalasHapus