Sosialisasi Pencegahan Demam Berdarah dan Chikungunya - POKJA IV Kecamatan Gunung Anyar

 
 Pada akhir bulan Maret 2013 lalu, di pendopo kecamatan Gunung Anyar diadakan sosialisasi pencegahan penyakit demam berdarah dan chikungunya yang perlu diwaspadai penyebarannya.
Pembicaraan tentang penyakit chikungunya di daerah dan penyakit demam berdarah di masyarakat kota khususnya, sempat menghangat pada beberapa waktu yang lalu. Pembicaraan ini didorong oleh kenyataan adanya peningkatan jumlah penderita demam berdarah di kota-kota besar.
Sekalipun penyakit chikungunya tidak menyebabkan kematian, namun perawatannya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sementara jumlah penderita demam berdarah senantiasa tetap tinggi dari waktu ke waktu, akan tetapi berdasarkan laporan yang ada angka kematian penyakit ini sudah dapat ditekan. Hal ini mengindikasikan bahwa pengelolaan penderita demam berdarah pada fasilitas kesehatan semakin membaik. Namun demikian upaya pemberantasannya guna memutus mata rantai penularan penyakit demam berdarah tetap merupakan prioritas, karena penyakit ini sangat menkhawatirkan jiwa generasi yang akan datang.

PENYAKIT CHIKUNGUNYA DAN DEMAM BERDARAH
            Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya, sedangkan demam berdarah disebabkan oleh virus dengue. Kedua penyakit ini menampakkan gejala klinis yang berbeda. Penyakit chikungunya mempunyai gejala demam, radang sendi yang terasa sangat sakit terutama di daerah pinggang, lutut, tumit dan pada ujung jari-jari kaki dan tangan. Selain itu, terdapat bintik-bintik merah pada kulit yang tidak disertai rasa nyeri maupun gatal. Gejala sakit/linu pada sendi sangat dirasakan antara 1 – 10 hari lamanya. Sedangkan gejala demam berdarah sebagai berikut: demam tinggi, adanya penjelmaan pendarahan dan cenderung menimbulkan renjatan (syok) yang dapat menyebabkan kematian.
            Gejala demam chikungunya mirip dengan demam berdarah dengue yaitu demam tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah pada kulit terutama badan dan lengan. Namun pada penderita chikungunya tidak ada pendarahan hebat, renjatan (syok) maupun kematian, sebagaimana pada penderita demam berdarah.


PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
            Dalam pemberantasan kedua penyakit ini mempunyai masalah yang sama, antara lain belum ada vaksin serta obatnya. Begitu pula dari aspek binatang penular/vektor penyakit ini mempunyai kesamaan yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Peranan nyamuk ini sangat besar, karena hanya dengan gigitannya dapat memindahkan virus penyebab kedua penyakit tersebut. Bahkan, kadang-kadang satu ekor nyamuk dapat berkali-kali menggigit beberapa orang,  yang berarti berkali-kali pula memindahkan virusnya. Atas pertimbangan alasan ini, maka pemberantasan kedua penyakit tersebut dititikberatkan pada pemutusan rantai kehidupan nyamuk aedes aegypti.
            Dalam hidupnya nyamuk ini melewati 4 tahapan (stadium) yaitu: telur, jentik, kepompong dan nyamuk (dewasa). Biasanya pengendalian populasi nyamuk aedes aegypti dalam rangka pemberantasan penyakit chikungunya dan demam berdarah, dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1.      Penyemprotan dengan racun pembunuh serangga, misalnya Malathion.
Cara ini  sasarannya adalah  nyamuk (dewasa). Cara ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah mudah dan cepat membunuh nyamuk dewasanya, tetapi dianggap kurang baik karena hanya membunuh nyamuk dewasanya saja, sementara jantiknya tidak akan mati, begitu pula telurnya tetap dapat menetas di kemudian hari. Sehingga beberapa hari kemudian jentiknya akan menyusul menjadi nyamuk. Sedangkan telurnya segera menetas menjadi jentik apabila terkena air, kemudian menjadi kepompong dan segera menjadi nyamuk lagi. Dengan demikian hasil penyemprotan tidak memberikan dampak yang berarti kecuali hanya beberapa saat saja. Selain itu, apabila dilihat dari aspek lingkungan, cara penyemprotan ini dapat menimbulkan dampak yang negatif, diantaranya beberapa spesies atau jenis binatang yang lain akan ikut mati dan dapat menyebabkan timbulnya kekebalan bagi nyamuk sasaran itu sendiri. Fenomena ini perlu dipahami oleh masyarakat agar kita tidak terlalu “mendewakan” cara ini sebagai sesuatu yang dapat menuntaskan masalah demam berdarah dan chikungunya.
2.      Penaburan bubuk abate (temephos)
Obyek yang menjadi sasaran cara ini adalah jentik nyamuk, bukan nyamuk dewasanya dan bukan pula telurnya. Sehingga dapat dikatakan cara ini “tanggung”. Sebab walaupun secara rutin kita menaburkan bubuk abate, dan tidak disertai upaya pemberantasan yang lain, nyamuk tidak akan mati karenanya. Sementara itu telur yang ada siap menetas dalam beberapa waktu saja. Selain itu, masih ada tempat perindukan nyamuk yang terlewatkan atau tidak terjangkau oleh penaburan bubuk abate. Belum lagi kendala klasik yang lain seperti kurang berpartisipasinya masyarakat dalam penaburan bubuk abate sehingga tidak ada jaminan abate sampai pada sasaran.
3.      Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Secara teoritis, PSN merupakan cara yang terbaik. Sebab sasaran kegiatan ini adalah telur, kepompong dan jentik. Kegiatan PSN ini biasa disebut “3 M” yang meliputi: Menguras dengan menyikat dinding tempat penampungan air. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak dapat masuk. Mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti ban bekas, kaleng bekas, tempat minuman mineral dan sebagainya.
PENCEGAHAN SECARA INDIVIDUAL
            Hal yang sangat penting dalam mencegah penularan penyakit demam berdarah maupun chikungunya, terutama secara individual adalah menghidari diri dari kontak vektor dengan cara melindungi diri dari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Cara melindungi diri dapat dilakukan sebagai berikut:
1.      Pengolesan diri dengan repelen (obat nyamuk oles) atau minyak tertentu.
2.      Mengusir nyamuk dari sekitar kita, misalnya dengan raket nyamuk, kipas angin dan sebagainya.
3.      Menggunakan pelindung atau pakaian yang tidak memungkinkan nyamuk dapat kontak dengan kita, pada bayi sangat dianjurkan menggunakan tutup/kerudung bayi terutama di kala tidur siang.
Upaya pemberantasan/pencegahan penyakit ini akan berhasil apabila dilakukan secara terus-menerus/kontinyu, baik dilakukan secara individu maupun gerakan bersama oleh masyarakat. (KIM swaraguna Surabaya)
Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar