Sukses Berkat Sambal ikan roa

Gara-gara diberi oleh temannya yang tinggal di Manado, Rimayanti Wardani Adiwijoyo atau akrab disapa Rima,mengaku kecanduan menyantap sambal yang dibuat dari campuran ikan roa. Pertama kali mengenal sambal ikan roa, Rima masih mengenyam pendidikan di InterStudi, Jakarta, yaitu tahun 1999. Setiap teman satu kosnya datang dari Manado, Rima selalu minta dibawakan oleh-oleh sambal ikan roa. “Karena suka, saya pun minta diajarkan membuat sambal ikan roa oleh kerabat teman saya yang tinggal di Manado. Melalui arahan di telepon, saya coba-coba belajar membuatnya. Namun, resep sambal saya ubah sedikit agar rasanya sesuai dengan lidah saya,” cerita Rima saat ditemui Sekar .
Kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa membuatnya jadi sering memasak sambal khas asal Sulawesi ini. Lama-lama ia pun semakin piawai. Namun, kala itu Rima tidak berniat menjual sambal buatannya. Lalu, pertengahan tahun 2012 , wanita kelahiran Jakarta, 9 Maret 1980 ini dibawakan oleh-oleh ikan roa dari temannya yang datang dari Manado. Mengingat kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa, sang teman membawakan ikan dalam jumlah banyak. Rima lantas memasak semua ikan roa pemberian temannya tersebut. “Setelah saya jadikan sambal, hasilnya jadi sangat banyak. Iseng-iseng , sisa sambal roa yang berlebihan tadi saya masukkan ke dalam toples selai. Ternyata, dapat delapan toples ,” ujar ibu dua anak ini.
Rima memotret toples-toples berisi sambal buatannya, lalu memajang foto itu di profil BlackBerry mliknya. “Tidak lama memasang, teman-teman kantor langsung minta dibawakan. Dalam sekejap, sisa sambal bikinan saya laku terjual di kantor,” ungkap Rima semangat. Bahkan, teman-teman satu kantor yang tidak kebagian sambal roa buatannya pun lantas minta dibuatkan. Melihat banyaknya permintaan teman kantor, wanita yang pernah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran di salah satu perusahaan provider telekomunikasi ini terpikir untuk membuka usaha. “Saya langsung hubungi teman yang kenal dengan pemasok ikan roa dari Manado. Syukurlah, ada sebuah koperasi di Manado yang bisa memasok ikan roa asap sebagai bahan utama sambal. Jika beli di Jakarta harganya sangat mahal,” ujar Rima.
Dengan uang Rp500 ribu, Rima mulai memproduksi sambal ikan roa. Sepulang dari kantor, ia langsung masuk dapur untuk mengolah ikan roa asap. Sang suami, Ciptoning Adiwijoyo, juga ikut turun tangan. Jika Rima banyak berkutat di dapur, suami yang seorang analis bisnis berinisiatif membantu Rima berbelanja bahan baku di pasar, seperti cabai dan bawang. “Sepulang dari kantor suami saya mampir ke pasar Pondok Gede. Pulang-pulang ia sudah menenteng bawang dan cabai,” kenang Rima. Biasanya Rima mulai beraksi setelah menyusui anak. Dengan hanya bermodalkan ulekan tangan, ia berkutat di dapur. Kadang Rima baru selesai memproduksi sambal pukul 3 pagi, namun ia tak pernah mengeluh. “Istilahnya, ada cinta di setiap ulekan,” ujarnya sambil tersenyum.
Kemudian , Rima mulai memikirkan cara mengemas sambal roa buatannya agar lebih menarik. Ia membeli botol-botol plastik di pasar di daerah jalan Pramuka di Jakarta. Desain logo juga dibuat oleh Rima sendiri. Logo bergambar ikan roa yang memiliki sembilan sirip ini melambangkan tanggal kelahirannya. Sementara warna merah pada logo menandakan rasa sambal yang pedas. Kemudian tercetuslah nama Sambal Roa JuDes. JuDes artinya Juara Pedas. Ini untuk menggambarkan cita rasa sambal yang pedas dan gurih.

Sebagai langkah awal, Rima menjajakan sambal produksinya di kantor. Ia masih ingat betul betapa banyaknya tantangan yang harus dihadapi saat memulai usaha ini. Setiap pagi, dengan membawa ransel dan tentengan berisi berbotol-botol sambal, ia berangkat menuju kantor. Bukan dengan mobil, tapi naik turun angkot dan busway. “Dalam hati saya berujar. Suatu saat nanti, apa yang saya alami ini bisa menjadi kebahagiaan di masa yang akan datang,” kenangnya. Di hari pertama, delapan botol yang dibawanya habis terjual. Keesokannya ia datang dengan 10 botol. Itu pun langsung ludes. Hari demi hari produksi mulai meningkat.
Ternyata, selain untuk dikonsumsi sendiri, banyak yang berminat untuk ikut menjual Sambal Roa JuDes. Banyaknya peminat untuk menjadi reseller membuat Rima semakin yakin kalau sambal buatannya memiliki prospek bisnis yang bagus. “Niat saya bukan hanya mengincar materi, tapi juga membantu teman-teman, khususnya perempuan, agar bisa memiliki pendapatan tambahan. Saya ingin menanamkan prinsip saling berbagi,” ujar wanita yang juga bekeja sebagai dosen paruh waktu bidang ilmu komunikasi pemasaran di salah satu universitas swasta ini. “Sedari dulu saya sudah hobi berjualan. Waktu SMP saya berjualan aksesori, waktu kuliah dan bekerja sempat berjualan parfum. Saya tahu bagaimana senangnya jika kita bisa mempunyai penghasilan tambahan. Apalagi bagi para ibu rumah tangga,” celetuknya,
Karena jadi penjual sambal, Rima dipanggil juragan oleh teman-temannya di kantor. Akhirnya nama sebutan juragan ini dipakai Rima untuk menyebut dirinya sebagai produsen. Sementara istilah bandar, digunakan untuk menyebut nama resellernya. Karena permintaan semakin melonjak, ia pun mulai memikirkan sistem yang lebih baik. Juli 2012 Rima mulai menerapkann metode baru. Ia menggaet lima orang distributor yang terdiri dari teman-teman dekatnya. Para rekanan yang disebut Distributor Bintang Lima ini memegang area penjualan tertentu dan bertugas merekrut atau menerima kerjasama dengan para reseller.
Menurut Rima, “nyawa” dari Sambal Roa JuDes terletak pada sistem penjualan langsung. Dengan sistem pemasaran melalui reseller, ada silaturahmi yang terjalin antara pembeli dengan sang reseller. “Dengan sistem reseller, otomatis barang tidak “parkir” di etalase. Sementara itu, kalau saya menitip di toko, tidak ada komunikasi yang terjalin antara penjual dan pembeli. Barang otomatis tidak berpindah tangan,” jelas Rima. Untuk distributor dan reseller, Rima menerapkan jumlah minimum pembelian. Tentu saja reseller dan distributor akan mendapatkan harga di bawah harga eceran. “Keuntungan yang didapat dari para distributor dan reseller ini bisa mencapai 20 – 30 persen,” imbuh Rima.
Penjualan juga melonjak drastis saat Rima gencar melakukan promosi melalui media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Apalagi saat ia menerapkan sistem endorse atau memberikan secara cuma-cuma Sambal Roa JuDes pada beberapa selebriti. Saat menerima produk sambal roa buatan Rima, selebriti tersebut lantas memajang foto dan memberi komentar di Twitter. Komentar para selebriti inilah yang dijadikan Rima sebagai bahan promosi. Pasangan Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca, penyanyi Nina Tamam, presenter Andhara Early serta koki dan pengamat kuliner Bara Pattiradjawane merupakan sebagian artis yang sudah memberikan komentar tentang nikmatnya menyantap Sambal Roa JuDes. “Saya cuma minta alamat mereka, lalu kirim sambalnya,” papar Rima berbagi tip.

Dalam bulan Februari 2013, penjualan sambal roa ini mencapai 3.000 botol. Sang suami lalu menyuruh Rima untuk fokus pada usahanya ini. “Suami bilang, saya tidak boleh serakah. Rezeki ini titipan Tuhan. Artinya, bisa diambil kapan saja. Saya disarankan untuk memilih satu, antara pekerjaan kantoran atau berjualan sambal,” cerita Rima. Menurut sang suami, dengan melakukan dua pekerjaan sekaligus, ia menjadi orang yang mudah korupsi. Misalnya, korupsi waktu. Memang, karena sibuk mengurusi sambal, kadang Rima terlambat sampai kantor. Selain itu, otomatis ia sering menggunakan fasilitas kantor untuk menunjang usaha, misalnya kertas atau printer. “Karena tidak mau jadi orang yang seperti itu terus, saya pun menuruti nasihat suami,” papar Rima.
Di bulan Februari 2013, Rima akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Satu hal yang menguatkan keputusannya untuk berhenti menjadi pegawai adalah karena ia sudah bisa membayar perjalanan ibadah Haji untuk ibundanya yang kini menjadi orang tua tunggal. “Berkat hasil penjualan sambal, saya bisa mewujudkan cita-cita membayar perjalanan Haji untuk Ibu. Niat ini sudah terlintas sejak almarhum Ayah tiada tahun 2011. Saat bekerja kantoran keinginan ini tidak pernah tercapai karena uangnya tidak pernah ter-kumpul,” ujar Rima terharu.
Sejak Rima berhenti bekerja, omzet sambal roa meningkat drastis. Di Januari omzet sambal baru mencapai Rp30 juta, sedangkan di April Rima sudah mengantongi omzet Rp170 juta. Dalam dua hari ia memproduksi 500 botol sambal. Selain di Indonesia, Sambal Roa JuDes seharga Rp37.500 per botol ini juga sudah memiliki reseller di berbagai negara, seperti Jerman, Kanada, Jepang dan Jeddah. Salah satu pasar swalalan juga menjual Sambel Roa JuDes di outlet. Namun, menurut Rima, penjualan terbanyak tetap diraih oleh para distributornya.
Salah satu kunci kesuksesan Rima adalah kualitas. Wanita itu mengaku sangat selektif memilih bahan baku sambal. Ikan roa asap yang dididatangkan langsung dari Manado harus benar-benar dalam keadaan kering agar sambal tidak berjamur saat telah dimasak. Sementara cabai harus dalam keadaan segar, serta memiliki batang yang juga masih segar.
Berkat kegigihan Rima merintis usaha sambal, satu demi satu resolusi yang dirancangnya di akhir tahun mulai terwujud. Salah satunya adalah ia bisa menabung , berinvestasi tanah, serta wakaf untuk almarhum ayahnya. “Tidak punya uang bagi saya sudah biasa. Karena itu, rasanya luar biasa sekali ketika saya bisa memiliki uang dan membaginya dengan orang lain,” ujar Rima menutup percakapan. (di uplad oleh Yanuar Yudha)

Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar