Ayo...Jangan GOLPUT.

KIM Swaraguna/Surabaya - Benarkah dengan ikut men-coblos pada pemilu mendatang bisa merubah nasib bangsa ini…?, kita tidak ada yang tahu, tetapi paling tidak kita sudah berusaha. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaumnya, terkecuali kita bersungguh-sunggu untuk berusaha…….

Tanggal 9April 2014 dan 9 Juni 2014 kita akan menghadapi apa yang dinamakan Pemilihan Umum. 9 April kita akan memilih calon Legislatif dan tanggal 9 Juni kita akan memilih calon Presiden. Kita sebagai warga Negara berhak menggunakan hak pilih kita pada Pemilu Tersebut. Pertanyaan yang mendasar adalah, apakah kita sudah kenal dengan calon-calon legestalif tersebut…?, meskipun sudah banyak dari mereka yang memajang foto narsis-nya di pinggir-pinggir jalan dan memakunya di pohon-pohon dari ukuran kecil hingga ukuran segede gajah, hampir pasti 80%-90% kita tidak kenal siapa mereka. Bagi yang ingin mengenal caleg-saleg ini lebih dalam maka KPU melalui website-nya telah memberikan informasi yang jelas sehingga kita bisa mengenal mereka.

Karena tidak mengenal para calon Legeslatif itulah yang mendasari para pemilih untuk tidak ambil bagian dalam pemilu. Para non pemilih inilah yang di sebut GOLPUT. Golput atau golongan putih adalah istilah untuk tidak menggunakan hak pilih seseorang dalam pemilu. Jumlah golput pada penyelenggaraan pemilu tahun 2009 lalu cukup besar. Berdasarkan data dari google, dari 171.265.442 pemilih tercatat jumlah golput sebanyak 49.477.776 atau 29,006% dan suara tidak sah, baik yang tidak mencontreng maupun yang dicontreng semua sebanyak 17.488.581 suara (sebagian tentunya golput). Tentunya angka tersebut sangat besar.

Apa yang menyebabkan orang memilih bersikap golput? Bermacam-macam alasan. Namun kini alasan yang paling banyak terdengar adalah kekecewaan masyarakat pada para wakil rakyat yang telah mereka pilih. Masuk akal, mengingat banyak contoh wakil rakyat yang tersangkut kasus korupsi dan sangat minim prestasi. Mereka lebih banyak menghamburkan uang rakyat sementara banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan. Mengecewakan, itulah kata yang akhirnya banyak membuat rakyat putus asa, dan memutuskan mengambil sikap golput.

kita tidak boleh putus asa, kita tetap harus memilih.
cara memilih dengan bijak.
1. Lihat track record atau rekam jejak para calon wakil rakyat. hal ini bukan lagi merupakan sesuatu yang sulit, karena kini adalah era informasi. dimana berbagai informasi begitu mudah didapat.
2. Apakah bijak memilih calon pemimpin yang beriklan atau mengiklankan diri secara jor-joran? logikanya, sangat kecil kemungkinan mereka tidak memikirakn cara mengembalikan modal setelah menghamburkan uang yang tidak sedikit agar terpilih dan menikmati kursi empuk.
3. Pilihlah yang paling mending, jika memang tidak ada yang baik.kalau kita menilai bahwa semua calon berpotensi mengahancurkan negara jika terpilih nanti.jika masa hancurnya ada yang katakanlah dlam satu hari, ada yang dalam seminggu dan ada yang dalam masa satu bulan. maka pilihlah yang kemungkinan menghancurkannya paling lambat, dengan harapan ditengah jalan nanti akan muncul dan tampil pendekar impian rakyat, yang akan menyelamatkan negeri dari kehancuran yang semakin parah.

Saat ini mekanisme yang ada masih memungkinkan orang tidak kompeten dan haus kekuasaan untuk tampil agar dipilih asalkan memiliki modal berupa uang, dimana rakyat mau tidak mau harus memilih satu dari mereka. mungkin ada undang -undang yang harus diperbaiki mengenai pengajuan calon wakil rakyat maupun calon pemimpin negeri, agar yang harus kita pilih sudah merupakan orang yang diajukan oleh rakyat dan bukan sekedar memiliki uang sebagai modal agar tepilih.

Tahukan Anda, bahwa 80% Calon Legislatif yang saat ini duduk di DPR-MPR akan mencalonkan diri kembali. Jadi apabila anda sudah muak dengan perilaku dewan yang suka korupsi, suka tidur saat sidang, tidak mengutamakan kepantingan rakyat melainkan hanya memikirkan perutnya sendiri maka JANGAN GOLPUT, karena dengan golput berarti anda tidak akan bisa merubah hal-hal tersebut di atas. Satu suara saja akan meentukan masa depan bangsa ini (Yanuar Yudha)
Share on Google Plus

About Kim Swaraguna

0 comments:

Posting Komentar