Surabaya Bebas Malaria

KIM Swaraguna/ Surabaya - Kota Surabaya kembali menuai prestasi. Kota yang dipimpin Tri Rismaharini dinobatkan sebagai kota bebas malaria dan berhak mendapatkan Sertifikat Eliminasi Malaria dari Kementerian Kesehatan.

Penghargaan itu diraih, karena sudah tidak ditemukan lagi penderita dengan penularan setempat (kasus indigenous) selama 3 tahun berturut-turut di Kota Pahlawan.

"Kami bersyukur karena sudah 3 tahun ini tidak ada penduduk Surabaya yang terkena Malaria," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita saat dihubungi detikcom, Minggu (27/4/2014).

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. Penyakit malaria ini juga mempengaruhi tingginya angka kematian pada bayi, balita dan ibu hamil.

Setiap tahunnya, lebih dari 500 juta penduduk dunia terinfeksi dan diantaranya lebih dari 1 juta orang meninggal dunia. Kasus terbanyak terdapat di Afrika, Amerika Latin, Timur Tengar, beberapa bagian negara eropa, Asi termasuk Indonesia.

Jumlah kasus di Indonesia pada Tahun 2006 sebanyak 2 juta penderita Malaria. Sedangkan 2007 mengalami penurunan menjadi 1.774.845 orang.

Di Surabaya pada Tahun 2012 sebanyak 4 orang tercatat terserang Malaria. 2013 naik menjadi 5 orang dan tahun 2014 sudah 4 orang. Namun, Febria menegaskan, penderita tersebut bukan warga Surabaya. Mereka adalah warga yang berasal dari luar Pulau Jawa.

"Mereka ke Surabaya ini hanya berlibur ke kerabatnya yang tinggal di Surabaya. Jadi khusus warga Surabaya tidak ada," terangnya.

Mantan Direktur Rumah Sakit Umum dr Soewandhi Surabaya ini mengimbau kepada warga Surabaya untuk tetap menjaga kesehatan di lingkungannya masing-masing. Termasuk menggerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).

"Walaupun kita menerima sertifikat, kita jangan lengah. Tetap melakukan PSN dilakukan seluruh masyarakat berbarengan," tandasnya. (Yanuar Yudha:sumber rangkuman berita online)
Share on Google Plus

About Kim Swaraguna

0 comments:

Posting Komentar