Laskar Mawar Pelangi Rungkut Menanggal

KIM Gunung Anyar/Swaraguna - Tujuh perempuan paro baya sudah berkumpul di Balai RW 3 Rungkut Barata. Boleh dibilang, balai RW itu adalah base camp mereka. Di bangunan sederhana itulah, untuk kali pertama tujuh ibu rumah tangga tersebut mengukur sebuah taman belajar. Namanya, Taman Belajar Masyarakat (TBM) Mawar. Sebuah tempat yang lantas menjadi jujukan favorit anak-anak, terutama siswa sekolah dasar.

Hari itu, Senin (2/6), terlihat enam sepeda kayuh di sisi kanan balai. Kendaraan itulah yang selama ini menjadi tunggangan para penggagas TBM Mawar dalam mengitari kompleks dan berangkat menuju base camp.

Karena kebiasaan tersebut, mereka pun menggelari diri sebagai Laskar Mawar Pelangi. Mirip anak-anak dalam novel Laskar Pelangi yang kerap memakai sepeda onthel. Nama komunitas itu sengaja ditambahi kata Mawar. Bukan hanya agar tak mirip dengan karya besutan Andrea Hirata tersebut. Tapi, juga agar nama TBM kebanggaan mereka tetap muncul.

Nah, tujuh penggawa TBM itu adalah Dewi Syafrudin, Niniek Widodo, Rachmawati, Sri Pertiwi Sujono, Istikharoh, Setianingsih, dan Dien Marliana. Semuanya kini memang ibu rumah tangga. Tapi, beberapa di antaranya pensiunan perempuan karir. Dewi Syafrudin, misalnya, anggota termuda, adalah mantan karyawan Bank Mandiri. Niniek Widodo pernah mengajar di salah satu SMP di Surabaya.

Mereka berkumpul lantaran disatukan oleh minat dan kepedulian yang senada. Yakni, gemar membaca dan berkegiatan di jagat sosial. ’’Kami dulu aktivis RT,’’ ujar Dewi yang disambut gelak tawa para koleganya.

Puncak kumpul-kumpul itu adalah ketika mereka memenangi lomba bedah buku yang diselenggarakan Badan Arsip dan Perpustakaan (Barpus) Surabaya. Karena itu, sebuah perusahaan swasta memberikan sokongan dana untuk membangun taman baca. TBM Mawar pun resmi berdiri pada 17 Agustus 2008.

Perlahan-lahan, ruangan berukuran sekitar 3x4 meter tersebut menjadi ruang belajar yang kian nyaman bagi anak-anak. Angin dingin dari pengatur udara membuat ruangan tetap sejuk. Selain itu, ada TV LCD sekaligus satu set komputer yang selalu terhubung ke jagat internet. Fasilitas tersebut merupakan sumbangan hasil lobi-lobi pintar para ibu itu. Tak heran, anak-anak SD pun betah ngendon di tempat tersebut sambil belajar atau sekadar membaca.

Kini TBM Mawar sudah punya 3 ribu buku. Isinya beragam. Mulai novel, komik, sains, hingga koleksi majalah. Selain dari sumbangan perpustakaan kota dan pusat, sebagian di antaranya adalah hibah dari warga Rungkut Barata atau hasil patungan masing-masing anggota. ’’Kami tidak minta-minta. Tapi, kami selalu mengimbau dan siap menerima apa pun buku yang disumbangkan dari pihak mana pun,” ujar Dewi.

Selain memenangi lomba perpustakaan kategori taman baca masyarakat terbaik se-Kota Surabaya pada April 2010, TBM Mawar pernah mewakili Jatim pada lomba tingkat nasional. ’’Tapi, kurang beruntung saat itu,’’ kata Sri Pertiwi.

Di luar Surabaya pun, gaung kiprah TBM Mawar cukup dikenal. Sejumlah mahasiswa hingga jajaran pemda dari sejumlah daerah datang untuk studi banding. ”Dari Aceh hingga Amerika ada yang pernah berkunjung kemari,” kata Dewi sembari menunjukkan catatan buku tamu mereka.

Aneka prestasi itu tentu tidak diraih kalau Laskar Mawar Pelangi tersebut tidak kompak. Memang, kekompakan itu begitu terasa ketika mereka berkumpul dalam satu ruangan. Dari luar pun terdengar riuh gelak tawa dan obrolan para perempuan yang sudah bercucu itu. ’’Kesenengan kami ya suka engkel-engkelan begitu. Sudah biasa. Kalau tidak ngumpul sehari, ada yang kurang,’’ ujar Dewi.

Karena itu, mereka lebih suka berkumpul bersama, makan bareng, pengajian berjamaah, serta berdiskusi soal edukasi ketimbang menonton sinetron dan menggosip. Lebih nyaman seperti itu,’’ kata Sri.

Dari kumpul-kumpul itulah, biasanya tercetus ide brilian untuk mengadakan kegiatan sosial bernilai edukatif. Kegiatan itu lantas mewarnai TBM yang mereka banggakan tersebut.

Acara mereka boleh bersahaja. Tapi, mendidik. Misalnya, pelatihan MC, pemutaran film, workshop pembuatan jilbab modis, atau talk show dengan topik sosial yang sedang hangat. Kali terakhir, TBM Mawar membuat domino buku untuk memperingati Hari Buku Nasional. Memang, TBM Mawar tidak sekadar menjadi taman baca. Tapi, juga wahana belajar untuk memperluas wawasan anak-anak dan masyarakat. Selain berkutat dalam hal kepustakaan, Laskar Mawar Pelangi mengajar di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Laskar Mawar Pelangi memang boleh dibilang lansia. Rata-rata usia mereka sudah kepala enam. Tapi, soal semangat, mereka tak kalah dengan yang muda. Meski, ada juga relawan pustakawan belia yang ikut mengelola TBM Mawar.

Dengan gigih, para ibu itu mengatur katalog buku, memberi stempel nomor buku, menempel lidah buku, hingga menyampul. Ide-ide mereka rasanya tidak pernah luntur untuk menyebarkan virus pendidikan tersebut. (Phaksy Sukowati/c7/dos:Sumber JPNN)
Share on Google Plus

About Kim Swaraguna

0 comments:

Posting Komentar