Batik Mangrove Surabaya Siap Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Batik Mangrove Surabaya Siap Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

KIM Swaraguna - Surabaya memiliki daerah pesisir yang ditumbuhi hutan mangrove, meliputi kecamatan Rungkut dan kecamatan Gunung Anyar. Selain wisata alam mangrove yang dikembangkan untuk pariwisata, ternyata tanaman mangrove bisa menghasilkan produk-produk yang bernilai jual tinggi, salah satunya adalah batik mangrove.

Di kampung Wonorejo Rungkut Surabaya, mangrove diolah secara kreatif menjadi batik yang saat ini sudah menjadi ciri khas daerah tersebut. Batik khas Wonorejo ini nilai jualnya cukup tinggi. Untuk selembar kain ukuran 2 meter, dibandrol dengan harga minimal lima ratus ribu rupiah. 

Apa yang telah dilakukan warga Wonorejo Surabaya ini patut diacungi dua jempol. Dengan menggali keunikan dari nilai lokal yang tidak dapat ditemui didaerah lain, menjadikan produk ini tidak mudah ditiru karena memiliki nilai yang khas. Langkah ini adalah salah satu cara untuk menghadapi era MEA yang memungkinkan produk negara lain dijual secara bebas di Indonesia dengan harga murah dan kualitas yang lebih baik dibanding dengan harga produk lokal. 

Untuk bersaing dengan produk negara ASEAN yang lain, sebaiknya tidak berkompetisi di harga, karena justru akan merugikan produsen produk lokal. "Nilai-nilai lokal inilah yang harus diangkat", demikian anjuran Soebiakto Priosoedarsono, Pakar branding nasional. (Ditulis oleh : Rizki Rahmadianti)
Share on Google Plus

About Kim Swaraguna

0 comments:

Posting Komentar