Strategi UKM menghadapi Kenaikan UMK

 

Strategi UKM menghadapi Kenaikan UMR

KIM Swaraguna - Kenaikan UMK 2015 sudah dituangkan dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur no 72 Tahun 2014 Tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Timur tahun 2015. Maka, mau tidak mau kantor dan pabrik harus menyesuaikan upah minimum karyawannya sesuai dengan peraturan tersebut. Untuk UMR kota Surabaya tahun 2015 sebesar Rp 2.710.000,-

UMK dengan nilai seperti itu, cukup berpengaruh terhadap kinerja UKM. Persaingan mencari karyawan dengan pabrik besar, tentu saja untuk sebagian besar UKM tidak bisa bersaing dalam segi upah minimum. Walaupun saat mencari karyawan, tidak semuanya mematok gaji UMR untuk UKM, akan tetapi tentu saja kualitas karyawan yang didapatkan bisa jadi berbeda.

Ada 2 strategi dalam menghadapi UMK yang cukup tinggi bagi pelaku UKM
1. Berani memberikan standart gaji yang sama dengan UMK. Konsekuensinya, pelaku UKM harus bisa menaikkan pendapatannya. Pelaku UKM mau tidak mau harus banyak berkreativitas untuk menciptakan high value added product dan juga level produktivitas karyawan. Produk yang diberi sentuhan kreativitas akan mempunyai nilai jual yang tinggi yang akan memberikan margin yang lebih besar bagi para pelaku UKM. Selain itu, pelaku UKM juga harus memiliki standart pengawasan kerja untuk karyawan, sehingga setiap waktu karyawan bekerja dapat produktif dan efektif.
Keuntungan dari cara ini adalah mampu bersaing dengan perusahaan besar dalam mencari karyawan. Namun kelemahannya untuk UKM yang belum bisa menghasilkan produk dengan tambahan nilai, belum bisa menerapkan kontrol pada karyawan dan belum mempunyai sistem recruitment yang jelas, tentu saja akan menjadi sumber kebocoran pengeluaran untuk UKM.

2. Memberikan gaji pegawai dibawah standart UMK yang berlaku. Langkah ini bisa diambil karena dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur no 72 Tahun 2014 Tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Timur tahun 2015, masih ada celah untuk perusahaan yang belum mampu bisa mengajukan penangguhan. Secara keuangan untuk UKM, akan cukup banyak menghemat dalam hal pengeluaran, karena gaji yang diberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing UKM. Hal ini menjadi salah satu poin keuntungan menggunakan cara pilihan kedua. Akan tetapi kelemahan cara ini adalah, UKM akan bekerja ekstra untuk mendapatkan karyawan berkualitas dengan gaji yang rendah.

Mana yang lebih baik? Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangan dan tentu saja setiap pilihan yang diambil selalu disertai dengan konsekuensi dalam pelaksanaannya. (Ditulis oleh : Rizki Rahmadianti)
Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar