Lawatan Swaraguna : Memandang Eloknya Gunung Kinabalu (3)

Lawatan Swaraguna : Memandang Eloknya Gunung Kinabalu (3)

Swaraguna - " Bapak- bapak dan Ibu-ibu esok hari kita kemas barang dan chek-out hotel" kata Usha narayanansamy, salah satu pendamping kami yang berasal dari Jawatan Kementrian Penerangan Kuala Lumpur. Semua delegasi langsung kaget mendengar pernyataan tersebut. "Kita akan pindah hotel ke daerah Kundasang di kaki gunung Kinabalu" lanjutnya. Mendengar penjelasan lebih lanjut tersebut semua anggota delegasi langsung mengerti kecuali saya, karena saya tidak mempersiapkan stok baju hangat  satu-pun, jadi pasrah saja kalau besok harus menggigil kedinginan.

Sabtu pagi 28/03/2015 pukul 08.00 waktu Kuala Lumpur semua delegasi sudah membawa koper masing-masing dan memasuki bis yang akan membawa kita ke daerah Kundasang-Ranau.

Anggota delegasi melihat proses pembuatan kue lidah
Lawatan delegasi Indonesia dan Brunai Darussalam yang pertama adalah di daerah Papar. Disini terdapat Komuniti 1 Malaysia (K1M) Papar. Komunitas ini bergerak di bidang pembuatan kue tradisional Malaysia, yaitu kue lidah. Anggota komunitas ini berjumlah 8 orang dan kesemuanya adalah wanita. Didirikan pada tahun 2004 di bawah naungan koperasi Berundong papar, dari modal yang hanya RM 130 (Rp 455.000) telah berkembang menjadi RM 6000 di tahun 2010. Kelompok usaha ini di bantu penuh oleh pemerintah mulai dari penanganan produk, pengemasan hingga pengatura keuangan. bahkan pihak kerajaan juga membantu mendirikan bengkel kerja yang di lengkapi mesin modern. Komunitas ini terbukti mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya dan menciptakan peluang kerja.

KIM Swaraguna mewakili Pimpinan Delegasi untuk menerima cindera mata
 Setelah puas menikmati cemilan kuih* lidah yang menggugah selera, rombongan delegasi langsung berangkat menuju K1M benoni yang hanya berjarang 40 menit dari K1M papar. K1M Benoni ini memproduksi kerahjinan tangan berupa tikar dan topi dari anyaman bambu. Selain itu mereka juga memproduksi pisau, golok, pedang dan pisau tulang untuk memotong sapi/kerbau.Di sini KIM Swaraguna mewakili pimpinan delegasi Indonesia Bapak Selamatta Sembiring menerima penukaran cindera mata.

Dari K1M, rombongan langsung bergerak menuju daerah Kundasang, tempat di mana gunung Kinabalu berdiri. Dari benoni ke daerah Kundasang berjarak kurang lebih dua jam. Dari dalam bis saya bisa melihat bahwa pembangunan yang di lakukan di negeri Sabah ini benar-benar merata. Meskipun Kundasang terletak di kaki gunung, pembangunan infrastrukturnya tidak kalah dengan pusat kota Kinabalu.

Rombongan delegasi melihat film Kinabalu dalam theater mini
Gunung Kinabalu benar-benar eksotis, meskipun satu jam penuh kita melewati jalan yang berkelok-kelok setibanya di Taman Nasional badan terasa segar kembali. Hawa sejuk langsung menyergap begitu rombongan turun dari bis. Taman nasional Kinabalu ini terletak di ketinggian 1.564m dari atas permukaan laut. Sedangkan puncaknya sendiri berada di ketinggian 4 095m dari permukaan laut. Di Taman nasional ini kita bisa menyaksikan sedikit film tentang Kinabalu di dalam teather mini-nya. Dari pemutaran film tersebut kita dapat mengetahui bahwa gunung Kinabalu ini bukanlah gunung berapi, melainkan bongkahan batu granit raksasa yang terus tumbuh 5mm/tahun-nya. Kinibalu berasal dari kata "Nabalu" yang artinya tempat tinggal para roh. Taman seluas 745 kilometer persegi ini menjadi world heritage yang pertama di Malaysia. 

Taman yang terkenal dengan bunga raflesia-nya ini di kunjungi tak kurang dari 700 ribu wisatawan/tahun, dan menghasilkan RM 9 juta/tahun. Beberapa masalah yang di hadapi oleh taman nasional saat ini adalah pertumbuhan wisatawan yang luar biasa, adanya pengambilan tanaman hutan oleh penduduk lokal dan kebakaran hutan. 

Anggota delegasi turut manari bersama penari tradisional dari Kundasang
 Untuk beristirahat para rombongan di bawa ke Hotel Mount Kinabalu Heritage dan Spa. Di tempat yang sejuk ini kami di suguhkan kesenian daerah yang seronok* sekali. Para anggota delegasi-pun turut hanyut dalam acara tersebut dengan menari maupun bernyanyi. Kesenian bambu, yaitu grup musik yang semua alatnya terbuat dari bambu bisa menyuguhkan lagu yang merdu. Tarian yang di pertunjukkan oleh gadis-gadis Kundasang ini membuat banyak delegasi terhipnotis oleh kecantikannya.

Di tempat yang super dingin ini benar-benar sukses membuat saya dan beberapa anggota delegasi lainnya untuk selalu pergi ke tandas* untuk buang air kecil. Dan seperti yang saya takutkan sebelumnya , dinginnya malam di kaki Kinabalu ini membuat saya menggigil kedinginan pada dini hari sehingga harus menarik selimut lebih dalam lagi. 

Cantiknya Gunung Kinabalu
 Pada pagi hari, bila kabut sudah menghilang, dari hotel kita bisa menatap ke-elokan gunung Kinabalu yang bagian tengahnya masih tertutup awan. Sangatlah cantik..... (Yanuar Yudha) (Photo:Affan PH)

kuih*       : kue    
seronok* : menarik hati/menyenangkan
tandas*   : kamar kecil       

Photo lainnya





Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar