Berikan Uang Kembalian Berupa Permen Terancam Pidana

Berikan Uang Kembalian Berupa Permen Terancam Pidana

Berikan Uang Kembalian Berupa Permen Terancam Pidana

Swaraguna -Ita warga perumahan Rungkut Barata Surabaya sangat kesal ketika mendapati uang kembaliannya di gantikan oleh 2 bungkus permen. Kejadian ini dia alami sewaktu membeli susu formula untuk anaknya di toko susu yang cukup terkenal dai daerah Bratang Surabaya. "Apa nanti toko ini bisa menerima, jika permen-nya di kumpulkan terus aku beli barang di toko ini dengan permen..?" gerutunya. Kejadian yang di alami oleh Ita ini adalah kejadian yang masih sering terjadi ketika masyarakat berbelanja di toko tertentu. 

Perundangannya sangat jelas, bahwa menggunakan permen sebagai uang kembalian melanggar UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dengan ancaman maksimal dua tahun penjara dan denda maksimal Rp5 miliar. Bank Indonesia sendiri juga mengeluarkan aturan pada Pasal 2 ayat (3) UU BI, setiap perbuatan yang menggunakan uang atau mempunyai tujuan pembayaran atau kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang jika dilakukan di wilayah negara Republik Indonesia wajib menggunakan uang rupiah, kecuali apabila ditetapkan lain dengan Peraturan Bank Indonesia. 

Kadang dengan alasan tidak ada uang receh, di pakai alasan bagi toko untuk memberikan permen sebagai uang kembalian. Pengusaha kerap mengatakan bahwa penggunaan permen ini karena pihaknya merasa kesulitan untuk mendapatkan uang kecil. Tetapi alasan tersebut di bantah oleh Bank Indonesia  yang mengatakan bahwa pengusaha bisa menukarkan uang mereka dengan uang kecil di BI. "Jadi tidak ada alasan kesulitan mendapatkan uang kecil"   kata Ery Setiawan, Kepala Bagian Pengelolaan Uang Keluar BI. "Apalagi di kota besar seperti Surabaya ini" jelasnya.

Konsumen berhak untuk menolak apabila di berikan permen sebagai uang kembalian. bahkan jika perlu bisa melaporkan kejadian yang di alaminya kepada pihak Kepolisian, karena memang undang-undangnya sudah ada. Minimal konsumen bisa menuliskan hal yang di alaminya di media masa seperti surat kabar, agar toko yang bersangkutan bisa memperbaiki pelayanannya. (Yanuar Yudha)

Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar