Fatlakah : Ubah Sampah Jadi Rupiah

Fatlakah : Ubah Sampah Jadi Rupiah

Fatlakah : Ubah Sampah Jadi Rupiah

Swaraguna - Surabaya kaya akan kader-kader berprestasi yang berwawasan lingkungan. Salah satunya adalah Fatlakah seorang ibu berusia 43 tahun yang saat ini mewakili Kota surabaya dalam kader Pemberdayaan masyarakat (KPM) berprestasi Jawa Timur 2015.   
Kiprah Fatlakah dalam membina lingkungan ini berawal dari 15 tahun silam. Saat itu lingkungan tempat di mana Fatlakah tinggal terdapat gang sempit yang menjadi satu-satunya akses menuju kampunya, yaitu Rungkut Lor VIII Masjid. Gang sempit tersebut, saat itu penuh dengan sampah, baik sampah bekas makanan maupun plastik. "Di lihat ga enak, apalagi baunya, sangat menyengat"jelasnya. Hal ini akan menjadi lebih parah bila musim hujan tiba. "Nyamuknya bakal tambah banyak" timpalnya.

Melihat lingkungan yang demikian, maka dia tergerak untuk mengatasi masalah tersebut dengan mangajak warga di lingkungannya bergotong-royong membersihkan sampah. Bukannya di respon dengan baik , tindakannya tersebut ternyata malah mendapatkan cemo'oh dari tetangga sekitarnya. "Saya di pikir kurang kerjaan"tutunya sambil tertawa. Cemo'oh, sindiran dan gunjingan tetangga sekitar, tidak membuat perempuan kelahiran 1972 ini patah semangat. Dia kumpulkan dan pilahkan sampah yang ada. Berkat ketekunannya beliau berhasil membuat pupuk dengan mendaur ulang sampah organik tersebut. 

Pada tahun 2002 Fatlakah mendapatkah musibah dengan meninggalnya sang suami tercinta. Untuk menghilangkan kesedihan serta untuk mencari nafkah guna kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah ke-dua anaknya, Fatlakah mulai mencoba mendaur ulang sampah plastik yang ada. "Kalau sampah organik sudah menjadi pupuk, maka sampah plastik ini juga saya coba olah menjadi barang yang berguna"jelasnya. Berbagai produk seperti tas dan dompet sudah berhasil beliau buat. Dari sinilah pundi-pundi rupiahnya mulai berdatangan, bahkan seringkali kewalahan akibat banyaknya pemesan. Akhirnya fatlakah kembali lagi mengajak tetangganya untuk mengikuti jejaknya. Kali ini respon tetangga sangat bagus, karena banyak yang mengikuti usahanya. 

Selain produk daur ulang sampah, Fatlakah juga melatih tetangganya dengan kerajinan sulam pita. "Keahlian sulam pita ini saya dapatkan dari Bapemas dan KB, kemudian saya tularkan kepada warga sekitar" jelasnya. Hasil karya sulam pita Fatlakah dan tetangganya terkumpul dalam bentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan nama Sakura Mas. Sampai saat ini anggota dari UKM tersebut sudah mencapai 20 orang dan pesanan sulampita dalam bentuk kerudung , mukena, pakaian , tudung saji, dan taplak sudah lumayan banyak.

Fatlaka yang juga merupakan pioner pendirian PAUD di daerahnya berharap banyak lagi warga Kota Surabaya yang mendedikasikan diri sebagai kader pemberdayaan masyarakat yang tujuannya untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. (Yanuar Yudha) 
 
Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar