Rumah Bekas Radio Bung Tomo Rata Oleh Tanah

Rumah Bekas Radio Bung Tomo Rata Oleh Tanah

Rumah Bekas Radio Bung Tomo Rata Oleh Tanah

Kota Surabaya kembali kehilangan saksi bisu sejarah pertempuran perang 10 November 1945. Sebuah rumah di Surabaya yang pernah digunakan oleh Bung Tomo untuk melakukan siaran radio kemerdekaan dirobohkan. Rumah bersejarah yang berlokasi di Jalan Mawar 10 itu kini sudah rata dengan tanah. Dari pengamatan di lapangan, areal lokasi tersebut tak nampak terlihat dari luar karena tertutup pagar seng setinggi sekitar 2,5 meter berwarna hijau. Namun dari pintu pagar yang terbuka bisa terlihat bahwa sudah tidak ada bangunan di dalamnya. Semuanya sudah rata dengan tanah. Yang terlihat hanyalah bekas reruntuhan, kayu, kusen, dan sisa genteng yang siap diangkut keluar.

Prasasti atau tetenger yang menyatakan bahwa rumah tersebut merupakan bangunan cagar budaya sudah tak terlihat lagi. Prasasti itu sebelumnya terletak di halaman depan rumah di dekat pagar. Pemerintah Kota Surabaya menjadikan rumah tersebut sebagai benda cagar budaya lewat SK Wali Kota Surabaya No. 188.45/004/402 1 04/1998. Pernyataan itu tertempel pada Sebuah pelat seng berwarna keemasan tertempel pada depan tembok teras dan juga sebuah prasasti yang ada di halaman depan rumah. Halaman depan rumah itu cukup luas dengan pohon peneduh, seperti jati, jambu air, dan berbagai tanaman perdu, yang terawat.

Bagi perjuangan pergerakan kemerdekaan di Surabaya, rumah di Jalan Mawar 10 tersebut merupakan salah satu saksi bisu. Di dalam rumah itu Bung Tomo pernah membakar semangat warga Surabaya lewat corong radio di masa perang November 1945. Rumah itu disulap menjadi stasiun radio sekaligus tempat persembunyian Bung Tomo. Orang menyebutnya radio Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia.

Selain Bung Tomo, ada Muriel Stuart Walker atau populer dengan nama K'tut Tantri yang bersiaran di sana. Perempuan asal Amerika Serikat yang kemudian menjadi penulis pidato Presiden Sukarno itu berjasa menyiarkan perjuangan Indonesia ke luar negeri menggunakan bahasa Inggris. Radio tersebut akhirnya diketahui oleh musuh, yang memaksa Bung Tomo memindahkannya ke Jalan Biliton.

Menurut kabar yang ada, lokasi tersebut telah di beli oleh Mall Jayanata sebesar 11 Milyar dan akan di gunakan sebagai lahan parkir. Saat ini sang pemilik rumah sudah pindah ke kawasan Pondok Nirwana-Rungkut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Wiwik Widyawati yang memantau penyegelan itu mengatakan pengerjaan proyek tersebut tidak sesuai dengan rekomendasi yang diberikan cagar budaya. Karena itu pihaknya menindaklanjuti dengan penyegelan lahan. “Selanjutnya, kami akan koordinasi dulu dengan pihak cagar budaya,” kata Wiwik.

Menurut Wiwik, proyek itu sebenarnya sudah ada rekomendasi dari pihak cagar budaya tertanggal 14 Maret 2016. Dalam rekomendasi itu, diterangkan bahwa rumah itu boleh direnovasi karena bangunan itu sudah tua. Bahkan, ada pula beberapa bagian yang perlu diperbaiki dan sudah diusulkan pemohon. “Tapi, dalam rekomendasi itu tidak disarankan dibongkar atau dirobohkan karena bangunan itu tipe B,” tuturnya.

Namun beda halnya dengan Kepala Seksi Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kota Surabaya, Ahmad Miqdar yang mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan pembongkaran stasiun radio tersebut. Pemkot telah meluluskan pengalihan kepemilikan lahan tersebut kepada pihak swasta, yaitu PT. Jayanata.”Rumah itu milik pak Amin, jadi kepemilikannya pribadi. Bukan milik pemkot,” ujarnya.
Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar