Vaksin Palsu Untuk Balita Beredar Tahun Sejak 2003

Vaksin Palsu Untuk Balita Beredar Tahun Sejak 2003

Swaraguna -  Apakah anak anda lahir pada periode tahun 2003 keatas, kalau iya berati anak anda perlu di curigai terkena dampak dari peredaran vaksin palsu yang di buat oleh pasangan suami istri yang tinggal di Provinsi Jawa Barat ini. Demi mendapatkan harta yang berlimpah pasangan suami istri yang bernama Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustinaini nekad membuat vaksin palsu yang di peruntukkan untuk balita. 

Vaksin palsu ini di tengarai telah beredar sejak tahun 2003 ke seluruh Inonesia dan peredarannya telah merambah ke puskesmas dan klinik - klinik kecil. bahkan karena harganya yang miring , tidak di ragukan lagi kalau ada Rumah sakit besar yang tertarik untuk membeli dan menggunakannya. Cairan utama dari vaksin palsu itu adalah cairan Tetanus dan cairan infus yang di produksi dalam skala besar di dalah rumah tersangka.

Para pemalsu vaksin ini menembak 5 merek dagang vaksin yang merupakan merek vaksin ternama yaitu : Vaksin Tuberkulin, Pediacel, Tripacel, Havrix, dan Biocef. mengenai peredaran vaksin palsu ini Kementrian kesehatan mengeluarkan rilis berita sebagai berikut : Melalui akun Twitter resmi @KemenkesRI, Kemenkes menyampaikan 7 alasan agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan peredaran vaksin palsu. Berikut alasan yang disampaikan tersebut:

1. Jika anak Anda mendapatkan imunisasi di Posyandu, Puskesmas, dan Rumah Sakit Pemerintah, vaksin disediakan oleh pemerintah yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi. Jadi vaksin dijamin asli, manfaat dan keamanannya

2. Jika anak Anda mengikuti program pemerintah yaitu imunisasi dasar lengkap di antaranya Hepatitis B, DPT, Polio, Campak, BCG, pengadaannya oleh pemerintah didistribusikan ke Dinas Kesehatan hingga fasyankes. Jadi dijamin asli, manfaat dan keamanannya.

3. Jika peserta JKN dan melakukan imunisasi dasar misalnya vaksin BCG, Hepatitis B, DPT, Polio dan Campak, pengadaan vaksin didasarkan pada Fornas dan e-catalog dari produsen dan distributor resmi, jadi asli dan aman

4. Ikuti program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Tanpa adanya vaksin palsu, imunisasi ini disarankan (harus) diulang. Jadi bagi yang khawatir, ikut saja imunisasi ini di posyandu dan puskesmas.

5. Diduga peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1% wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Ini relatif kecil secara jumlah vaksin yang beredar dan wilayah sebarannya.

6. Dikabarkan isi palsu itu campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan.

7. Karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli.
Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar