Berkunjung ke K1M Kuala Kangsar



Berkunjung ke K1M Kuala Kangsar

Pagi terakhir di pulau Pinang, kami meninggalkan hotel Flamingo yang terletak di tepi pantai Tanjung Bunga yang menjadi tempat kami menginap selama 3 malam di negeri Pulau Pinang. Berangkat pukul 8 pagi waktu Malaysia, kami mengendarai bis menuju negeri Perak tepatnya di wilayah Kuala Kangsar. Perjalanan kurang lebih 2,5 jam untuk sampai ke Kuala Kangsar tepatnya di desa Sayung. 

Pembuatan Labu Sayung

Desa Sayung merupakan penghasil labu sayung, yaitu kerajinan berbahan tanah liat, kalau di jawa disebut gerabah, tembikar atau kasongan. Jenis tanah liat di desa sayung ini, sangat cocok untuk bahan pembuatan labu sayung. Hampir semua warga desa memiliki pekerjaan yang sama, yaitu membuat labu sayung. Sehingga desa ini banyak dikunjungi wisatawan, selain hendak membeli labu sayung juga mempelajari prosesnya. Beberapa tempat dijadikan homestay, untuk wisatawan yang ingin belajar lebih lama tentang proses pembuatan labu sayung.
Pusat pembuatan Labu Sayung

Membuat labu sayung dengan cara paling sederhana

Aneka bentuk Labu Sayung

Seluruh delegasi bersama aparat setempat dan pengrajin Labu sayung

Kuala Kangsar merupakan wilayah yang menjadi bagian dari negeri Perak. Berbeda dengan Pinang, mata pencaharian penduduk negeri Perak, kebanyakan adalah dari pertanian. Suasana desa juga terasa masih sangat kental. Saat rombongan tiba di desa Padang Changkat, kami disambut dengan iringan musik rebana sambil bersholawat.

Pembuatan Tenun Benang Emas

Sebuah Showroom di desa Padang Changkat, tak begitu luas namun berisi barang-barang mahal karya tangan Puan Hajah Azizah Binti Muhamad Yusuf yang telah membuat kerajinan sulaman benang emas yang sangat indah. Beliau banyak mendapat penghargaan dari berbagai macam instansi dan karyanya bahkan telah diakui UNESCO sebagai produk seni dari Malaysia.
Pusat tekatan Benang Emas
Puan Hajah Azizah Binti Muhamad Yusuf
Sebuah sarung bantal dibuat selama beberapa hari dengan menggunakan sulam tangan

Sulaman benang ini, banyak diaplikasikan untuk sarung bantal, baju pengantin, tempat tissue, kipas, dan berbagai merchandise yang biasa dihadiahkan antar raja-raja di wilayah Malaka. Untuk satu set sarung bantal, berisi 2 buah sarung bantal, dihargai 4000RM. Sedangkan sulaman benang emas dengan teknik mesin bordir harganya 300RM
Kotak tempat tissue dengan sulaman yang indah

Motif tanaman yang banyak dipakai sebagai hiasan sulam benang emas

Pembuatan Keris

Tak jauh dari showroom sulam benang emas, kami diajak melawat di tempat pandai besi yang membuat keris, kekayaan lokal yang serupa dengan yang ada di Indonesia. Proses pembuatan keris ini dilakukan oleh Tuan Abdul Mazin bin Abdul Jamil yang juga turunan ketiga dari orang Indonesia yang sudah membaur dengan penduduk Malaysia

Tuan Abdul Mazin bin Abdul Jamil menjelaskan proses pembuatan keris
Rombongan bersama pengrajin keris di desa Padang Changkat

Kebijakan pemerintah untuk membuat Satu daerah satu industri, direspon dengan baik oleh masyarakat

Galeri Sultan Azlan Shah

Setelah makan siang di desa Padang Changkat, rombongan bergerak menuju galeri Sultan Azlan Shah, yaitu sebuah ruang pamer yang berisi barang-barang koleksi pribadi Sultan Azlan Shah yang telah wafat 2014. Aneka barang mewah yang menjadi koleksi sang Sultan, dipamerkan disini termasuk berbagai macam cinderamata pemberian dari negara-negara lain. Area yang cukup luas ini, tertata dengan sangat indah.

Rombongan berfoto didepan gedung galeri utama

Berkunjung ke Galeri Sultan Azlan Shah di Kuala Kangsar

Sayangnya, kami tidak diperkenankan mengambil foto-foto didalam galeri kecuali dari pihak official saja.


Jamuan makan malam bernuansa Melayu

Kuala kangsar merupakan ibukota Malaysia sebelum dipindah ke Kuala Lumpur. Daerah ini tidak seramai Pulau Pinang, namun nuansa Melayu sangat kental. Saat jamuan makan malam pun, kami dihibur oleh musik tradisional yang begitu khas Melayu.
Jamuan makan malam dengan Jabatan Penerangan Malaysia Negeri Perak berlangsung di Samyong Resort, sebuah penginapan yang berada di tepi sungai Perak.


Alat musik khas negeri Perak

Jamuan makan malam bersama Japen Malaysia negeri Perak

Berfoto bersama menjadi acara wajib yang tak boleh ditinggalkan

Seluruh delegasi Indonesia, mendapat hadiah istimewa dari pemerintah setempat. Labu Sayung yang begitu cantik, namun membuat kami berpikir keras sepanjang malam, bagaimanakah cara membawanya pulang ke Indonesia (Rizki Rahmadianti)
Bertukar cinderamata

Bertukar Cinderamata

Dan malam ini kami berpikir keras, cara mengemas labu sayung agar selamat sampai di Indonesia

Share on Google Plus

About Kabar Surabaya

0 comments:

Posting Komentar