Recent comments

Breaking News

Bersatu Untuk Menjaga Kawasan Pesisir Mangrove

Bersatu Untuk Menjaga Kawasan Pesisir Mangrove


Manunggal Media –  Kota Surabaya adalah kota yang terletak di tepi laut. Hal ini membuat  kawasan pesisir pantainya menjadi kaya akan sumber daya alam, baik itu hasil tangkapan ikan maupun potensi wisatanya. Kawasan pesisir pantai ini, tersebar mulai dari sisi timur, barat hingga ke utara. Diperlukan usaha yang cukup aktif, agar kawasan pesisir ini bisa berkembang dengan baik. Salah satu kawasan pesisir yang perkembangannya cukup baik adalah pesisir Gunung Anyar Tambak Kota Surabaya.

Pesisir Gunung Anyar Tambak ini terletak di ujung timur Kota Surabaya dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sidoarjo. Kawasan ini terkenal dengan hutan Mangrovenya yang sangat terjaga kelestariannya. Hutan Mangrove inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjunginya.

Kondisi Mangrove yang  terjaga dengan baik ini, juga memberikan banyak sekali manfaat kepada para penduduk sekitar, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Mereka dengan mudah untuk mencari ikan manyung dan kepiting rajungan yang menjadi komoditi utama di kawasan Mangrove Gunung Anyar Tambak ini.

Kondisi alam mangrove yang cantik serta hasil tangkapan laut yang melimpah ini, ternyata tidak diperoleh bgeitu saja dengan mudah. Hal ini berkat kerjasama yang cukup apik antara warga asli sekitar dan para nelayan musiman yang kerap singgah di kawasan pesisir Gunung Anyar Tambak ini. Kerjasama untuk merawat kelestarian  alam Mangrove Gunung Anyar Tambak ini dpelopori oleh Chusniati sejak tahun 2001 silam.

Chusniati ingat betul ketika beliau baru saja menikah dan akhirnya tinggal di kawasan Gunung Anyar Tambak ini. “Daerah sini dulu sering kebanjiran, gak tanggung-tanggung bisa sampai selutut airnya” jelasnya. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran warga sekitar untuk membuang sampah pada tempatnya. “Saat itu warga masih senang buang sampah sembarangan, biasanya sampah ditempatkan pada kresek besar lalu di lempar begitu saja ke sungai” jelas Chusniati. Tentu saja hal tersebut membuat sungai yang berada tepat di depan kediamannya menjadi kotor dan berbau tidak sedap.

Tidak mau kondisi buruk ini terus berlanjut, akhirnya Chusniati langsung berinisiatif untuk melakukan pembersihan sungai. Bersama sang suami, beliau mengangkut satu persatu sampah dari dalam sungai. Hampir setiap harinya, terkumpul tiga gerobak sampah untuk di angkut ke Tempat Pambuangan Sampah (TPS) yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya.

Sambil sedikit terisak, wanita yang telah berusia 37 tahun ini menceritakan bagaimana ketika saat itu  banyak tetangganya yang menganggapnya sebagai orang gila. “Chusni iku wes gak waras ketoane, kerjaane kok mek ngangkuti sampah ae,”*. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus melakukan bersih-bersih sungai.
( *Chusni itu sepertinya sudah gila, kerjaannya tiap hari kok cuma mengangkuti sampah )

Lambat laun, apa yang dilakukan oleh Chusniati ini mulai disadari oleh warga di lingkungannya. Setelah melihat sungai menjadi bersih, akhirnya warga juga mulai enggan untuk membuang sampah ke dalam sungai. 

Melihat kesadaran warga yang mulai tumbuh, akhirnya Chusniati mulai melakukan pendekatan kepada warga sekitarnya. Hampir sebagian warga di lingkungannya ber-etnis Madura, bahkan sudah banyak yang warga Kota Surabaya asli yang menikah dengan etnis Madura. Hal ini membuatnya harus belajar dialek dan bahasa Madura agar bisa melakukan pendekatan secara intens.

“Saya bisa paham kalau mereka ngomong pakai bahasa Madura, tapi untuk menimpalinya saya masih terbata-bata” Ujar Chisniati. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan niat beliau untuk terus menyatukan warga guna menjaga lingkungan. Bagi Chusniati keberagaman antara Madura atau Jawa tidak menjadi kendala baginya. Karena semuanya memiliki satu tujuan, yaitu menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman.

Aktifitas warga pesisir Gunung Anyar Tambak yang aktif dalam menjaga lingkungan ini mulai mendapatkan perhatian dari pihak luar. Salah satunya adalah Perusahaan Listrik Negara (PT.PLN Persero). Lewat Program Corporate Social Responsibility (CSR), PLN mendirikan Bank Sampah yang langsung dikelola oleh warga sekitar. Suhendar salah satu pejabat PT.PLN yang meresmikan Bank Sampah ini sangat kagum akan cantiknya Mangrove dan keberagaman warga Gunung Anyar Tambak. 

“Prinsip bersatu dalam keberagaman benar-benar tercipta secara nyata di sini, sehingga tidak pernah ada gesekan antar warga,” tutur Suhendar. “Malah banyak yang bersatunya sampai ke pernikahan antar etnis,” ujar Suherman. “Bu Chusniati memang hebat, jangan-jangan yang nyomblangin warga di sini  sampeyan,” guranya kepada Chusniati.

Salah satu program yang dimiliki oleh Bank Sampah yang diberi nama Bintang Mangrove ini adalah membayar listrik dengan sampah. Dengan program ini, warga di pesisir Gunung Anyar Tambak hanya perlu menyetorkan sampah untuk membayar tagihan listriknya.

Aktifitas Nelayan Di Pesisir Mangrove Gunung Anyar Tambak
 Apa yang dilakukan oleh Chusniati ini, ternyata berhasil mengubah kebiasaan para nelayan. Saat ini, para nelayan di Gunung Anyar Tambak ini mempunyai dua hasil tangkapan. Kalau biasanya mereka hanya menangkap ikan dan kepiting, sekarang mereka juga “menangkap” sampah plastik yang ada di muara dan sekitar lebatnya akar Mangrove. Hasil tangkapan ikan akan disetor ke pengepul, sedangkan sampah plastik akan di setor ke Bank Sampah untuk melunasi tagihan listrik.

Kebiasaan baru ini rupanya juga berdampak pada hasil laut yang para nelayan dapatkan. Semenjak mereka rajin mencari sampah-sampah yang ada, baik di muara maupun di sela-sela akar Mangrove,  hasil laut berupa Kepiting Rajungan dan ikan Payus menjadi semakin berlimpah. “Saat ini para nelayan jarang yang sampai ke laut lepas, karena mereka dengan mudah mendapatkan Kepiting Rajungan dan beragam ikan di sekitar Mangrove sini,” jelas Chusniati

Aksi nyata yang dilakukan oleh Chusniati ini juga banyak menyita perhatian dari para pihak. Mulai dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang memberikannya penghargaan hingga Piala Kalpataru dari Provinsi Jawa Timur, karena keberhasilannya membangun lingkungan hidup  di sekitarnya. Bahkan, Andy F Noya, pembawa program acara Kick Andy juga menghadiahkan perahu wisata kepadanya. 

Dengan perahu wisata dari Program Kick Andy tersebut, akhirnya Chusniati juga mulai membuka kegiatan wisata susur sungai Mangrove Gunung Anyar Tambak. Beliau juga melibatkan warga lainnya sebagai pengelola dari wahana Baik sebagai pemandu perahu maupun sebagai pengemudinya. 

“Apa yang sudah saya lakukan,  semata-mata hanya untuk kemajuan kampung pesisir ini, jadi semua warga, baik itu keturunan Madura, Jawa, semua saya rangkul,” tutur Chusniati. “Karena ini demi kemajuan kampung kami juga, dan warga harus jadi pengelola, bukan hanys jadi penonton,” imbuhnya. (Rizki Rahmadianti)   

#keberagamanmasyarakat
#unityindiversity
#bersatudalamperbedaan  

Tidak ada komentar